Kamis, 23 Oktober 2008

Peduli Generasi Karo dan Pendidikan di Tanah Karo antara Harapan atau Keinginan ??

(Sebuah pergumulan tentang masa depan Generasi Karo di masa yang akan datang dan masalah peningkatan mutu Pendidikan di Tanah Karo)

Dr Robert Valentino Tarigan S.Pd Calon DPD Sumut 2009-2014 Sang Pejuang Lingkungan Hidup dan Pejuang Pendidikan Pernah Berkata : “Jangan Wariskan Air Mata bagi Anak Cucu Kita tapi Wariskanlah Mata Air”

Jujur dari hati saya yang paling terdalam tidak ada maksud lain untuk membuat artikel sederhana ini, bukan untuk menyinggung siapa-siapa, tidak lain tidak bukan adalah sebuah pergumulan saya secara pribadi tentang masa depan Generasi Karo dan peningkatan mutu pendidikan di Tanah Karo. Saya yakin banyak sekali teman-teman atau tokoh Karo yang juga bergumul tentang masalah ini. Saya hanya mau memberikan kontribusi Informasi bagi siapa saja pembaca Majalah Maranatha ini, mungkin belum melihat masalah ini, atau juga mungkin belum di jadikan sebagai sebuah prioritas dalam program pendidikan di Tanah Karo yang kita cintai ini. Atau juga saya yang salah melihat, namun tidak salah juga bila dijadikan sebagai sebuah bahan Studi banding di kemudian hari sehingga pergumulan ini saya sampaikan. Sekaligus agar tidak mengganjal di hati ini. Bagaimana sebenarnya membangun Tanah Karo ini? Menurut saya, salah satunya adalah dimulai dari peningkatan mutu pendidikan di Tanah Karo. Sehingga suatu saat nanti bila mutu pendidikan sudah baik, maka sudah barang tentu SDM Generasi Karo akan membaik dan akhirnya akan berdampak bagi pembangunan di Tanah Karo kearah yang lebih baik pula. Semisal begini “bibit yang baik akan menghasilkan pohon dan buah yang baik pula tentunya”.
Bila SDM di Tanah Karo sudah baik maka harapan kita kedepan semua aspek atau bidang akan baik pula misalnya di bidang pertanian, kesehatan, hukum, ekonomi, sektor pariwisata, peningkatan pendapatan daerah sekaligus peningkatan pendapatan rakyat Tanah Karo. Hal ini sangat penting, menyangkut masa depan Tanah Karo dan Generasi Karo kedepannya. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa orang Karo di perantauan memiliki banyak potensi dalam SDM yang bisa kita ajak untuk duduk bersama demi membangun Tanah Karo. Saya ambil misalnya contoh begini, bagaimana memajukan pendidikan di Tanah Karo, kita memiliki banyak para pakar pendidikan (tink tank atau pemikir) yang bisa kita undang untuk menyampaikan program atau tehnik dan cara mereka untuk memajukan pendidikan di Tanah Karo mulai dari TK, SD, SMP sampai SMU. Para “pakar pendidikan itu” sudah memiliki jam terbang yang tinggi dan memang sangat sukses membangun sektor pendidikan ditempat mereka berada (Medan, Jakarta dan Bandung).
Sangat baik bila kita mengundang mereka duduk bersama untuk membangun pendidikan di Tanah Karo yang kita cintai ini. Saya secara pribadi sangat optimis bila ini dilakukan atau dilaksanakan maka 20-30 tahun kedepan ada sesuatu yang baru di Tanah Karo yang kita cintai ini. Tanah Karo akan bangkit dan seturut juga di bidang yang lain karena kata kuncinya adalah pendidikan. Maka SDM di Tanah Karo pasti akan semakin lebih baik. Kenapa kita tidak mencobanya?? Seperti teman-teman kita dari daerah Tapanuli dan Padang, mereka peduli masalah pendidikan di kampung halamannya sehingga kita bisa melihat hasilnya saat ini, saudara kita dari Tapanuli dan Padang sangat banyak berkiprah di mana-mana (maksudnya di instansi Pemerintah, BUMN maupun Swasta). Mengapa itu bisa terjadi karena mereka mempedulikan pendidikan bagi generasinya di kampung masing-masing, lihat saja tokoh-tokoh mereka yang membangun kampung halamannya seperti TB Silalahi, Jenderal Luhut Panjaitan, GM Panggabean, Akbar Tanjung, Feisal Tanjung, Dino Pati Jalal (mereka membangun SMU plus, universitas dan sarana infrastruktur di daerah mereka masing-masing, demi generasinya). Bagaimana dengan kita?
Perlu kita ingat mereka bisa berhasil dan tampil di semua lini pemerintah pusat maupun daerah bahkan di sektor swasta mereka kuasai (ini contoh yang jelas) hal ini terjadi bukan secara kebetulan tapi ini telah lama mereka bangun sejak 40-50an tahun yang lalu. Dan ini terus berlanjut alias ada regenerasinya karena mereka tidak lupa selalu mengkader generasinya untuk maju dan bisa memimpin. Mari kita lihat contohnya di Republik ini, sejak Presiden Alm Soekarno, Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati sampai Susilo Bambang Yudhoyono. Orang-orang dilingkaran 1 nya pasti ada orang Batak Toba dan Padang. Baik itu yang menjadi Mentri, Staf Ahli maupun Dirjennya. Bahkan siapapun nanti Presiden di RI ini sudah hampir dapat di pastikan mereka (orang Tapanuli dan orang Padang) akan tampil. Sekali lagi ini hanya contoh saja agar kita juga melakukan hal yang sama, orang lain bisa, mengapa kita tidak lakukan? Saya yakin kalo hal ini kita mulai dari sekarang tidak tertutup kemungkinan suatu saat nanti siapapun Presiden di RI ini maka Orang-orang Karo atau Generasi Karo akan tampil di Lingkaran 1 Presiden, yang akan menjadi Menteri dan Dirjennya adalah orang-orang Karo yang berkualitas dan takut akan Tuhan Yesus (saya yakin suatu saat orang jujurlah yang akan memimpin Negeri kita ini maka dari itu kita harus mempersiapkan kader kita dari sekarang, dengan cara Peduli pendidikan di Tanah Karo).
Sebut saja contoh begini, calon pemimpin kita di masa akan datang ditentukan oleh berapa jumlah orang-orang Karo yang ada di Akpol, Akmil, AL dan AU saat ini? Di STAN, Akademi POS, Akademi Tekom, STPDN atau IIP? Juga di UI, UGM, ITB, UNPAD, UNDIP, IPB, UNAIR, USU, UNAND, UNRI. Hal ini penting karena apapun ceritanya sebahagian besar dari merekalah nanti yang akan memimpin Negeri kita ini. (maaf bukan berarti kampus Swasta tidak di perhitungkan namun ini hanya contoh bahwa kita sudah kalah bersaing dengan yang lain dari segi kwalitas dan pengetahuan sehingga menyebabkan orang-orang Karo hampir tidak kelihatan lagi). Untuk bisa masuk kesana harus memiliki kemampuan yang baik secara pengetahuan dan kesehatan yang prima, jadi sangat perlu menguatkan pendidikan dasar (TK, SD, SMP dan SMU) di kampung halaman kita tadi (Tanah Karo). Dengan demikian bila SDM di Tanah Karo sudah baik, maka mereka akan lulus di PTN atau Akademi-akademi diatas, nah dengan demikian maka ketika Generasi Karo banyak mengisi Kampus-kampus itu maka kedepan pasti kita memiliki kader alias calon pemimpin yang baik untuk masa-masa yang akan datang. Gampang kan? Masalahnya apakah SDM di Tanah Karo udah mantap? Apakah anak-anak kita Generasi dari Tanah Karo siap bersaing dengan yang lain?
Masalah ini bisa kita rubah kearah yang lebih baik asal kita mau untuk memulainya. Kalo soal tokoh-tokoh, kita juga punya banyak tokoh kaliber yang tak kalah dengan tokoh-tokoh dari daerah yang lain sebut saja Ir Derom Bangun, DR Sutradara Ginting, Jenderal Raja Kami Sembiring, Pt Drs Inget Sembiring, GT Surbakti, DR Simon Sembiring, Letjen Amir Sembiring, Brigjen Rajiman Tarigan, Dr Robert Valentino Tarigan, Prof Ramlan Surbakti, Prof Masno Ginting, Putera Kaban MH, Ir Cerdas Kaban, Andrianus Melialla, Prof Firman Tambun, Antonio Surbakti, Ir Jonathan Ikuten Tarigan Dll. Dan masih banyak deretan nama yang bisa kita undang untuk duduk bersama demi membangun Tanah Karo yang kita cintai. Saya pikir Pemkab Tanah Karo dan Moderamen sangat cocok sebagai pengundang (Fasilitator) dan kami sebagai “Pemerhati Sosial” dan sekaligus juga sebagai penerus kepemimpinan “Gereja dan Tanah Karo” ini bersedia bekerja sama untuk mengadakan acara “Misi Mulia yang besar ini”. Kedua Instansi atau Lembaga ini perlu duduk bersama memikirkan masalah Generasi Karo dan Pendidikan ini, kalau bukan mereka lalu siapa lagi yang akan mempedulikannya?
Pertemuan rutin bisa di lakukan persemester atau pertahun jadi tidak mengganggu kesibukan bapak-bapak kita yang tentunya memiliki kesibukan di masing-masing instansinya. Bisa juga sarana Email atau Internet di gunakan untuk masukan-masukan buat Pembangunan Pendidikan di Tanah Karo Simalem ini. Saya berani mengatakan bapak-bapak (tokoh Karo) kita ini pasti sangat senang bila di ikut sertakan dalam membangun kampung halamannya Tanah Karo Simalem, mungkin juga mereka tidak mengharapkan apa-apa alias rela tidak di bayar bila pemikirannya di pakai untuk membangun Tanah Karo kedepan. Yah namun sekali lagi ini hanya harapan dan keinginan saya semata, sekali lagi karena rasa kecintaan saya buat Tanah Karo dan Generasi Karo. Bila memungkinkan Pemkab Tanah Karo dan Gereja GBKP mau mendengarkan aspirasi ini lalu bisa dilaksanakan, maka inilah cikal- bakal Generasi Muda Karo bisa tampil sebagai Calon-calon Pemimpin di negeri ini. Wah sangat luar biasa ya, sungguh amat menyenangkan sekali, sebuah kabar atau berita yang sangat menggembirakan.
Karena kita telah melakukan sebuah terobosan baru alias mereformasi hal-hal yang selama ini belum dilakukan. Bisa di katakan sebuah sejarah baru di Tanah Karo. Ini demi Tanah Karo dan Generasi Karo, kami siap membantu dan mendukung kegiatan mulia ini, baik dalam Doa, pikiran dan tenaga. Dan saya juga sangat yakin bahwa banyak teman-teman atau tokoh Karo yang ada di dalam maupun luar negeri merindukan hal ini. Harapan kita bersama kiranya keinginan ini bisa terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. Walaupun kita tahu hal ini tidak mudah untuk di lakukan, namun janganlah kiranya hal itu membuat kita takut untuk melakukannya. Agar kita tidak ketinggalan dari yang lain!! Semoga!!

Firman Tuhan dari Amsal 1:7 “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”

Tuhan Yesus Memberkati Amen

Pdt Masada Sinukaban
Pemerhati Sosial dan Peduli Kemanusiaan
KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA.

Selasa, 21 Oktober 2008




By: CHARLES HADI SEBAYANG, SH

Selasa, 14 Oktober 2008

Pekabaran Injil Bagi Orang-orang Karo yang di Perantauan?? Mengapa Tidak!!

(Melihat banyaknya Orang-orang Karo yang Merantau ke Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, NTT, Singapura, Malaysia, Eropah dan Amerika Serikat)

Hal ini sangat perlu di ketahui oleh Moderamen GBKP dan Umat GBKP, ataupun para Pendeta, Pt Dkn agar lebih serius lagi untuk Ber PI. Mengapa Saya berkata demikian? Melihat banyaknya Orang-orang Karo yang berada di Perantauan. Kalau tidak salah, data Moderamen GBKP hampir 300 ribu jumlah Ngawan atau jumlah Jemaatnya, dengan demikian kalau kita melihat jumlah Orang Karo yang hampir 800 ribu Orang, berarti masih 40 persen Orang Karo berada di GBKP. Mungkin, Orang Karo yang lain, berada di Katolik, Pentacosta, Karismatik dan Non Kristen. Tugas Gereja kita GBKP hanya mencari “Jiwa-jiwa” atau Orang-orang Karo yang belum beragama Kristen. Katakanlah “Mereka-mereka” yang masih beragama Suku atau Pemena. Kalau mereka yang sudah beragama Katolik, Pentakosta, Karismatik dan sebagainya tidak mungkin atau tidak ada gunanya kita Injili karena mereka juga sudah Kristen, atau menjadi pengikut Tuhan Yesus. Nah yang belum bagaimana??

Kalau PI kita terhadap Orang yang tidak Kristen “Belum/tidak” lagi terlaksana, maka Orang-orang GBKP yang berada di perantauanlah kita rekrut kembali, yang dulunya mereka adalah Anggota Gereja GBKP. Mungkin saja karena Gereja GBKP tidak ada di tempat mereka oleh sebab itu mereka beribadah ke Gereja lain atau juga tidak ke Gereja. Seperti di daerah Sulawesi, Kalimantan, Papua, NTT, Solo, Magelang, Ambon dan Luar Negeri. Kalau di Kalimantan, hanya di Pontianak yang memiliki Runggun, padahal mungkin saja di daerah-daerah lain masih banyak Orang-orang Karo yang belum terjangkau. Yang bisa kita layani dan kita buat Perpulungen GBKP nya. Di Sulawesi, hanya di Makassar yang ada Perpulungen GBKP. Sedang kan di Sulawesi Tengah (Palu), Sulawesi Tenggara (Kendari), Sulawesi Utara (Menado) dan daerah lainnya belum ada Perpulungen-perpulungen GBKP. Padahal di Daerah-daerah itu banyak Orang-orang Karo seperti di Kendari ada 15-20an Orang Karo yang Kristen.

Potensi untuk menjadi Runggun di Sulawesi ini sangat besar sekali. Mengapa GBKP tidak melakukan sebuah Program “Pendeta yang dikhususkan ber PI” ?? Khusus menggarap atau melayani Daerah-daerah PI seperti di beberapa Propinsi tadi. Katakanlah GBKP mempersiapkan 3-5 orang Pendetanya untuk menjangkau Jiwa-jiwa atau Keluarga-keluarga Orang Karo yang berada di Perantauan. Bahkan, bila memungkinkan bukan hanya di dalam Negeri saja yang kita PI kan, kita juga seharusnya sudah memikirkan ber PI Ke Luar Negeri seperti ke Singapura dan Eropah ?? Kenapa Moderamen tidak berusaha memikirkan untuk mendirikan Gereja GBKP di Daerah-daerah yang banyak Orang Karonya? Potensi untuk itu sangat besar, karena biasanya Orang-orang Karo yang merantau sudah berhasil secara Ekonomi (Kebanyakan Mereka adalah Pejabat atau Pengusaha walaupun tidak semua), tugas kita hanya mengumpulkan mereka saja, lalu kita ajak untuk membuat Perpulungen, kalau sudah mantap mungkin 1 atau 2 tahun kedepan kita bisa membangun gedung Gereja GBKP nya secara permanen. (Salah satu contoh, di Makassar Potensi untuk membangun Gedung Gereja GBKP bisa di lakukan, Jemaat siap untuk itu, mungkin Moderamen dan Klasis yang tidak berani). Tinggal mengirim seorang Pendeta, Pikaris atau Detaser saja ke Makasar, pastilah Aman semuanya. Seperti Orang Batak Toba yang mendirikan Gereja HKBP, kalau ada 10 kepala Rumahtangga saja, mereka pasti membangun Gereja HKBP, contoh seperti di Riau dan Salatiga??

Sebenarnya kita juga bisa seperti mereka, hanya saja kita selalu lambat bertindak. Hanya berdebat soal Teori dan Teknis saja selalu. Dan kita selalu berpedoman hanya ke pada Tata Gereja secara baku, seolah tanpa ada Tolelir. Padahal acuan Dasar Kita adalah Alkitab sebagai Firman Tuhan bukan hanya Tata Gereja saja. Mari kita memikirkan hal ini, karena pasti Orang-orang Karo akan semakin maju di masa akan datang, mereka akan meninggalkan GBKP kalau GBKP tidak bisa melakukan Perubahan atau mengikuti Perkembangan Situasi Jemaatnya. Moderamen harus segera mengutus atau mengirim satu atau dua Orang Pendeta ke Sulawesi dan Singapura atau bahkan ke Eropah. Untuk mendata Ulang apakah dari antara Orang-orang Karo tersebut anggota Jemaat GBKP atau tidak. Selanjutnya mereka-mereka yang kita data tadi, kita tanyakan kepada mereka apakah masih mau kembali ke GBKP? Andai mereka mau, maka kita membuat PJJ, yang kemudian akan menjadi Perpulungen GBKP. Dengan mengadakan Kebaktian Minggu secara rutin, akhirnya bisa saja akan menjadi sebuah Runggun GBKP. Setelah itu kita akan membangun Gedung Gerejanya. Hingga pada saatnya nanti di Sulawesi, Singapura atau Eropah sudah berdiri Gedung Gereja GBKP??

Saya yakin, mereka (Orang-orang Karo yang merantau tersebut) pasti merindukan GBKP berdiri di Sulawesi, Singapura atau di Eropah. Kadang, kita terlalu takut, masih bermental “Tempe atau Kerupuk” belum melakukan apa-apa sudah berpikir Takut (Pesimis). Kita perlu belajar dari Orang Batak Toba. Mereka berani, dan selalu mendahulukan (mengutamakan Gereja dimanapun mereka berada) membangun Gereja HKBP. Bukan yang lainnya. Maka kita tidak heran kalau HKBP ada di beberapa Negara seperti di Singapura dan Amerika.

Moderamen harus berani merubah Paradigma PI nya bukan hanya ke Daerah-daerah yang itu-itu saja selalu, itu juga penting hanya saja perlu juga hal-hal yang baru. Mengapa tidak?? Jujur saja melihat kerinduan Jemaat dan Orang-orang GBKP diperantauan ini, kita tidak usah takut dalam masalah Dana, ini pekerjaan Tuhan Yesus bukan pekerjaan kita sebagai manusia, kita hanya alat saja atau hanya salah satu sarana saja. Mari, Moderamen harus terima tantangan ini!! Saya juga bersedia ber PI untuk daerah Sulawesi atau daerah Timor, misalnya Ambon, Maluku dan Papua kalau Moderamen mendukung!!.

Sedangkan yang ber PI ke Luar Negeri seperti ke Singapura dan Eropah mungkin ada Pendeta GBKP yang bersedia. Saya pernah berdiskusi dengan Pendeta Dewi br Sembiring yang sering melayani ke Singapura dan Malaysia ternyata banyak sekali Orang-orang GBKP yang bekerja di sana sebagai Karyawan Pabrik, mengapa tidak kita tindak lanjuti?? Pdt MP Barus juga pernah menceritakan bahwa di Eropah itu ada 150an Kepala Keluarga Orang Karo. Hanya saja tempat tinggalnya berjauhan seperti di Belanda, Inggris, Jerman dan sebagainya.

Saya juga pernah beberapa kali mendapat Informasi dari Mj Maranatha dan juga dari Saudari Olivia br Tarigan (dia lama tinggal di Jerman, saat ini anggota GBKP Ps Minggu) bahwa memang banyak Orang-Orang Karo yang berdomisili atau juga yang sedang Kuliah di Eropah. Mengapa mereka tidak kita layani?? Bisa saja dari antara mereka itu ada yang merindukan GBKP berdiri!! Apalagi Moderamen dan Lembaga Kategorial sering juga/hampir tiap Tahun ada yang berangkat ke Luar Negeri?? Hal ini juga menjadi Pertanyaan, mengapa sering-sering keluar Negeri?? Tapi ternyata Gereja GBKP hingga saat ini tidak ada di Luar Negeri (kayak anggota DPR aja).

Termasuk di Singapura. Sekali lagi hal ini sebuah Seruan untuk saling mengingatkan bahwa Moderamen GBKP harus bekerja lebih giat lagi jangan hanya bekerja di Belakang Meja. Ayo turun dan pikirkan GBKP ini kedepan mau dibawa kemana?? Jangan lupa diluar sana Gereja teman-teman kita sudah banyak yang siap menanti “Eksodus” Anggota jemaat kita yang mungkin tidak merasakan pelayanan apa-apa di GBKP yang kita cintai ini. Kita jangan bangga dulu dengan situasi kita sekarang. Hati-hati, “Permata” kita khususnya di Kota-kota Besar saat ini banyak yang sudah tidak beribadah lagi di GBKP. Termasuk juga anak-anak Pendeta dan anak-anak Pertua-Diaken kita yang dari Medan Studi di Pulau Jawa ini. Hal ini seharusnya menjadi Pemikiran dan Perenungan Moderamen GBKP dan Perenungan kita bersama. Bila hal ini tidak kita pedulikan maka dalam tempo 20-30 tahun yang akan datang Gereja GBKP akan Kosong atau di tinggalkan (tinggal Kenangan yang terindah nina Bams Samson). Karena terlalu sibuk mengurus Organisasi akhirnya Lupa mengurus Jiwa atau Jemaatnya!! Semoga saja Tidak!!

Firman Tuhan :

Karena itu pergilah, jadikanlah semua Bangsa muridKU dan Baptislah mereka dalam Nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah AKU menyertai kamu senantiasa sampai kepada Akhir Zaman.

Matius 28:19-20

Penulis

Pdt Masada Sinukaban

Pemerhati Sosial dan Peduli Kemanusiaan

KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA

Tolak Pemberlakuan RUU Pornografi menjadi Undang-undang!!!!

Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi yang sempat menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat di waktu yang lampau sempat dihentikan pembahasannya oleh DPR. Namun ternyata, setelah mendapat banyak pertentangan RUU ini tetap diajukan untuk disahkan menjadi undang-undang setelah mengalami beberapa perubahan, termasuk perubahan judul menjadi RUU Pornografi.

Selain pembahasannya agak luput dari perhatian masyarakat dan juga menampung aspirasi masyarakat ternyata tidak terjadi perubahan yang substansial dari RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang lalu. RUUP ini masih sarat dengan beberapa masalah yang menjadi titik keberatan masyarakat di waktu yang lalu, misalnya beberapa pasal dalam RUU ini masih mengancam eksistensi hidup bersama karena menyangkut persoalan identitas dan keyakinan sebagian rakyat Indonesia, khususnya dari daerah-daerah yang tidak memandang ketelanjangan seseorang menjadi suatu permasalahan serius. Bukan hal yang mustahil kalau hal ini akan kembali memunculkan sentimen Disintegrasi Bangsa.

Pornografi memang semakin merebak belakangan ini terutama dipicu oleh kekuatan kapitalisme yang bersinergi dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Pornografi kini bisa dikonsumsi semua orang tanpa memandang batas usia dan tempat. Dari anak-anak hingga masyarakat yang hidup di pelosok-pelosok desa, kini bisa mengakses pornografi melalui internet, VCD porno yang beredar secara gelap maupun telepon "esek-esek".

Hal ini tentu sangat menguatirkan. Namun, menghadapinya dengan pemberlakuan RUU Pornografi ini sangat sarat masalah atas beberapa pertimbangan berikut:

1. Perumusan Pornografi pada pasal 1 RUU ini masih sangat multi tafsir dan jauh dari kejelasan. Hal ini tidak memenuhi azas kejelasan rumusan sebagaimana diungkapkan dalam Pasal 5 Undang-Undang Penyusunan Hukum. Misalnya ungkapan "yang dapat membangkitkan hasrat seksual" adalah berbeda-beda bagi setiap orang, sehingga cara seseorang berjalan pun bisa dikenakan pada ungkapan ini. Demikian pun halnya dengan istilah "tampilan yang mengesankan ketelanjangan" (Pasal 4 poin d) Dalam menafsirkan istilah-istilah yang tidak jelas akan terbuka kemungkinan setiap orang menginterprestasikannya dengan akibat justru tidak tercapainya kepastian hukum.

2. RUU ini mengesankan seolah-olah akar segala persoalan yang menghantar bangsa Indonesia pada kemerosotan moral terletak pada seksualitas dan erotisme. Jadi kalau masalah ini diselesaikan dengan sendirinya persoalan moral juga beres. Tujuan pengaturan pornografi dengan pendekatan hukum. Membangun moralitas masyarakat dengan hukum positif akan menempatkan negara pada posisi yang sangat menentukan pun dalam hal-hal yang bersifat privat. Jika demikian halnya bukankah negara akan menjadi negara totaliter? Pertanyaannya adalah, sampai seberapa jauhkah wewenang negara mengawasi warga negaranya? Apakah negara juga berwenang menentukan mana yang boleh dan yang tidak boleh dibaca oleh warga-negara? Tidakkah dengan demikian, kita menolong negara menjadi sebuah negara totaliter? Menjadi persoalan adalah, apakah negara juga memiliki wewenang untuk menentukan standard moralitas tersebut sampai memasuki wilayah personal? Dan kalau ya, batasan atau standard siapakah yang akan digunakan? Kalau Negara begitu kuatnya dalam menentukan moralitas personal, dimanakah peran lembaga Keluarga, Pendidikan dan Agama?

3. Adanya pengecualian pada pasal 7 dan 14 akan mengaburkan substansi RUU ini. Hukum dengan pengecualian akan menimbulkan diskriminasi dan sangat rawan terhadap manipulasi dan korupsi.

4. Tidak menghargai keragaman perspektif, terutama kekayaan ekspresi social budaya tradisional maupun kontemporer, baik komunal maupun personal yang ada dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian kepelbagaian budaya yang sangat beragam akan tereliminir oleh pemberlakuan RUU ini menjadi Undang-Undang. Padahal Pasal 28 dan 32 UUD 1945 nyata-nyata memberikan jaminan akan keragaman budaya ini dan merupakan identitas serta hak masyarakat. Penegasan akan kebebasan mengekspresikan keragaman budaya tersebut dikuatirkan akan menimbulkan disharmoni di tengah masyarakat. Sementara itu, tujuan reformasi kita adalah terwujudnya sebuah civil-society di negeri kita. Salah satu cirinya adalah kedewasaan warga negara di dalam menyikapi berbagai keberagaman.

Oleh karena beberapa pertimbangan diatas, maka kami menolak diberlakukannya RUU Pornografi ini menjadi Undang-Undang.

Kami menyadari adalah suatu kebutuhan akan pengaturan dan penertiban tentang pornografi. Namun, yang dibutuhkan adalah penertiban dan pengaturan distribusi yang lebih bertanggung-jawab atas produk-produk pornografi serta penegakan hukum yang tegas terhadap pemberlakuan Undang-Undang yang telah ada terkait dengan masalah ini seperti UU No.8 Tahun 1992 Tentang Perfilman, UU No.40 Tahun 1999 Tentang Pers. UU No.32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran dan UU No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

Kiranya keberatan atas keberadaan RUU Pornografi ini hendaknya tidak disalah-pahami sebagai menyetujui Pornografi.

Ditulis ulang Pdt Masada Sinukaban

KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA

Diangkat/diambil dari Website KWI : Internet www.mirifica.net

PGI : Persekutuan Gereja-gereja Indonesia

Kerusakan Hutan dan Pemanasaan Global (Global Warming) Tanggung Jawab Kita Bersama!!

(Penulis Pdt Masada Sinukaban KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA)

UKSW Salatiga Jawa Tengah Pastoral dan Masyarakat.

Gambaran Umum Kerusakan Hutan di Indonesia

Setiap 12 detik, menurut data Bank Dunia 2002, satu Lapangan Bola Hutan Tropis Indonesia Lenyap. Saban tahun rimba seluas “40 kali wilayah Jakarta hilang dari peta”. Negara rugi 45 triliun pertahun. Indonesia juga menyandang gelar juara pertama “Lomba” merusak Hutan sedunia, dengan “Melenyapkan” Hutan tropisnya setiap tahun. Akibat buruknya bisa datang setiap saat. Banjir, longsor, susutnya air, kerusakan ekologi, lingkungan hidup, pancaroba cuaca, dan masih banyak lagi [1].

Kerusakan Hutan di Indonesia secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan Pemanasan Global atau Global Warming yang berdampak/mengakibatkan terjadinya Perubahan Iklim. Harus diakui bahwa Indonesia memang sempat mengalami perusakan Hutan yang cukup besar. Dari hasil pengamatan citra landsat tahun 2000 diketahui bahwa perusakan Hutan periode1997-2000 mencapai 2,83 juta hektar pertahun untuk lima pulau besar, termasuk Maluku dan Papua. Hutan Indonesia yang selama ini dikenal sebagai Paru-paru Dunia, kini telah berubah fungsi. Fungsi Hutan Indonesia yang sangat baik untuk menyerap racun Karbon Dioksida atau gas beracun sekaligus juga menjadi pembersih udara di Bumi ini. Kini hanya tinggal kenangan Akibat perusakan Hutan Indonesia oleh para pelaku perambah Hutan atau pelaku “Illeggal Loging” maka fungsi hutan yang selama ini sebagai pengaman dan pembersih udara di bumi kini telah musnah. Hutan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal inilah yang mengakibatkan Pemanasan Global atau Global Warming yang berdampak terhadap Perubahan Iklim semakin cepat terjadi.

Meski bila di cermati, penyebab utama Pemanasan Global atau Global Warming tersebut ada 4. Satu, dari kelistrikan yang menyumbang 42 persen, dua transfortasi 24 persen, industri sekitar 20 persen, dan sisanya kependudukan serta penggunaan barang-barang komersial 14 persen. Hutan yang rusak sekalipun bukan penyebab utama emisi karbon atau yang dikenal dengan gas karbon dioksida. Namun perlu disadari bahwa fungsi Hutan adalah menyerap emisi karbon. Jadi, dengan rusaknya Hutan maka berdampak kepada Pemanasan Global dan Perubahan Iklim.

Pemanasaan Global atau Global Warming yang terjadi di Bumi kita ini adalah “Sumbangan” dari Negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat yang telah menyumbang gas emisi karbon sebanyak 24 persen, China 14 persen, Rusia 6 persen, sisanya industri raksasa Jepang serta India menyumbang 5 persen.

Meskipun tiga perempat (75%) dari emisi karbon disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil, perusakan Hutan yang disebabkan oleh Penebangan Liar, kebakaran hutan dan perubahan fungsi lahan hutan tetap dianggap memperparah terjadinya emisi karbon yang menyebabkan Pemanasan Global atau Global Warming yang pada akhirnya mengakibatkan Perubahan Iklim. Akibat dari Pemanasan Global atau Global Warming tersebut adalah terjadinya pencairan es di kutub yang menciutkan cairan es artik 2,7 persen per dekade. Meningkatnya tinggi muka air laut 0.5 mili meter pertahun, kenaikan suhu rata-rata dunia 0,13 derajat celcius dan badai yang sering kita rasakan [2].

Kerusakan Hutan yang berakibat Pemanasan Global ini juga bisa menyebabkan lapisan ozon berlubang dan ternyata mengakibatkan munculnya berbagai macam penyakit. Seperti malaria, demam berdarah, penurunan imunnitas tubuh hingga kemasalah lingkungan hidup. Pemanasaan Global atau Global Warming juga mengakibatkan naiknya permukaan air laut, kekeringan dan juga kebanjiran. Bencana-bencana tersebut dapat kita saksikan di televisi. Berbagai daerah pantai Indonesia diterjang banjir dan air pasang laut yang cukup tinggi berkisar 2-3 meter diantaranya di teluk Jakarta (daerah Jakarta Utara) dan Tangerang. Yang tak kalah mengerikan adalah Pemanasan Global ini bila tidak segera di antisipasi maka bisa juga menenggelamkan pulau-pulau kecil di Indonesia [3]. Suka atau tidak suka, bencana-bencana itu akan melanda Bumi kita ini silih berganti, dia pasti akan datang. Maka tidak terhitunglah jumlah yang akan menjadi korbannya, baik itu manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, air, udara, tanah, lingkungan hidup, bahkan alam ini yang tak dapat di gantikan lagi.

Bumi kita sedang diancam kehancuran? Sangat di butuhkan sebenarnya sebuah “Gerakan Kepedulian Bersama” demi penyelamatan Bumi kita yang memang hanya satu-satunya ini. Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat harus bersama-sama menyatukan kekuatan. Dan hal ini tidak bisa ditunda-tunda lagi karena sudah merupakan sebuah ancaman bagi kelangsungan hidup manusia. Akar masalah ini semua adalah dari sifat keserakahan manusia itu sendiri, yang selalu mau menguasai atau mendominasi alam ciptaan Tuhan. Manusia yang sebenarnya memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjaga, melestarikan dan memelihara Bumi ini tapi sebaliknya menghancurkannya demi kepentingan pribadi atau kelompoknya saja. Sifat kekerasan manusia terhadap ciptaan yang lain juga menyebabkan Pemanasan Global atau Global Warming ini. Maka dari itu sebenarnya manusialah satu-satunya makhluf yang paling bertanggung jawab atas bencana Pemanasan Global atau Global Warming yang berdampak terhadap Perubahan Iklim di Bumi kita ini.

Kekerasan dan Eksploitasi terhadap Hutan

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kekerasan diartikan perbuatan seseorang dan kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Kekerasan manusia bukanlah insting (Naluri) melainkan tindakan yang disengaja. Kekerasan tidak hanya melibatkan tindakan individual, namun dapat pula tertanam dalam struktur, politik dan ekonomi, yang secara sistematik mensubordinasi orang terhadap yang lain. Dalam Perjanjian Baru, Pemerintah dan Penguasa yang memerintah dunia ini tampak sebagai sumber kekerasan, dan mereka memang kehadiran kejahatan. Penguasa dan Pemerintah, sebagaimana adanya, merupakan personalitas lembaga-lembaga tersebut. Penguasa-penguasa ini diperkuat dan di topang oleh keputusan-keputusan Individual, namun mereka tampaknya melampaui kekuasaan individu-individu. Ketika mereka di rusak oleh pola-pola berdosa, mereka menjadi penguasa demonis dan memperbudak seluruh masyarakat dalam pola-pola berpikir dan bertindak yang destruktif [4].

Kekerasan mungkin juga dapat di defenisikan sebagai usaha individu atau kelompok untuk memaksakan kehendaknya terhadap orang lain melalui cara-cara non verbal, verbal atau fisik yang menimbulkan luka psikologis dan fisik. Kekerasan secara langsung diperkuat oleh kekerasan budaya dan struktural. Kekerasan-kekerasan yang terjadi terhadap Hutan ataupun yang lainnya dilakukan oleh Manusia itu demi keuntungan pribadi atau kenikmatan sendiri tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi setelah melakukan kekerasan atau eksploitasi terhadap Hutan tersebut. Sehingga Bumi ini menuju kehancuran. Pemanfaatan atau pendayagunaan Hutan demi keuntungan sendiri atau kelompoknya adalah sebuah tindakan yang sangat tidak di benarkan. Faktor kekuasaan atau individu sangat berpengaruh terhadap kehancuran Hutan ini. Sistem dominasi legal rasional yang bertumpu pada kekuatan hukum formal dan impersonal. Dominasi terkait fungsi bukan person.

Kekuasaan dalam organisasi di justifikasi lewat kompetensi rasionalitas pilihan. Hal ini paling sering di gunakan oleh para cukong-cukong atau mafia perambah Hutan untuk melegitimasi setiap kegiatan mereka untuk mengeksploitasi Hutan mengatasnamakan penguasa atau power. Agar dalam setiap kegiatan mereka dalam melakukan Perambahan Hutan seolah-olah memiliki ijin alias legal namun pada kenyataan selalu ada KKN.

Penyalahgunaan kekuasaan inilah yang banyak terjadi sehingga ideologi yang mereka pakai adalah dominasi kekuasaan atau power dari individu yang berkuasa dalam sebuah pemerintahan (sering kita kenal dengan istilah beking). Sistem ideologi yang mereka anut adalah ideologi yang di cermati dari banyak konsep dan pengertian yang mereka anut dengan maksud tujuan masing-masing dalam pengertian ideologi yang deskriptif atau pejoratif. Ideologi yang menjadi sebuah sistem penjelasan tentang eksistensi suatu kelompok sosial serta merasionalisasikan suatu bentuk kekuasaan. Dengan demikian, ideologi memiliki fungsi mempolakan, mengkonsolidasikan dan menciptakan arti dalam tindakan di dalam masyarakat [5].

Salah satu contoh yang menggunakan dominasi Kekuasaan atau Power dalam sebuah pemerintahan, sebut saja kasus Perambahan Hutan atau perusakan Hutan Lindung yang terjadi di provinsi Riau. Polda Riau dengan tegas menyapu bersih semua para pelaku Perambahan Hutan atau pelaku ileggal logging yang ada di provinsi Riau, diantara pelaku Perambah Putan itu tertangkaplah dua pelaku perambah Hutan Riau yang sudah puluhan tahun menghancurkan Hutan di Propinsi ini. Dua perusahaan raksasa bubur kertas (Pulp Paper), yaitu PT Indah Kiat dan PT RAPP [6]. Penangkapan kedua perusahaan raksasa ini adalah perintah dari Kapolri Sutanto kepada Kapolda Riau Brigjen Sutjiptadi yang benar-benar menindak para pelaku Illeggal Logging atau Perambah Hutan dengan tidak melihat siapa pemilik atau pun Beking Perusahaan tersebut.

Ini berlaku bukan hanya bagi Polda Riau tapi menyeluruh. Karena ini adalah kebijakan Kapolri selaku pemimpin aparat Kepolisian yang tertinggi. Demi menegakkan supremasi hukum dan keadilan di negeri ini. Sehingga secara serentak Polda-polda yang ada di seluruh Indonesia dengan tegas pula menangkap siapapun dalang dari Perambah-perambah hutan tersebut. Salah satu diantaranya polda Riau yang berhasil menangkap Perusahan-perusahaan Raksasa yang telah jelas-jelas melakukan Perusakan Hutan di Riau, dengan memanfaatkan ijin yang ada, lalu di salah gunakan oleh Perusahaan tersebut untuk merambah Hutan Riau. Namun apa yang terjadi? Ketika Polri bermaksud menegakkan hukum dan menangkap para pelaku Perambah Hutan, ternyata tidak sejalan dengan Departemen Kehutanan.

Departemen ini menganggap Polda Riau Kebablasan menangkap Perusahaan-perusahaan yang memiliki ijin, padahal jelas-jelas Perusahaan tersebut telah menyalahgunakan ijinnya (misalnya PT atau Perusahaan itu memiliki ijin HPH Hutan seluas 10000 hektar tapi Hutan yang di tebang seluas 20000 hektar) sehingga Polda Riau berani menangkap mereka. Polda Riau sebenarnya telah memiliki bukti dan alasan yang cukup kuat untuk menangkap Perusahaan-perusahaan Nakal tersebut. Namun sekali lagi Polda Riau tetap berbeda pendapat dengan Departemen Kehutanan. Sepertinya Departemen ini membela Perusahaan yang telah jelas-jelas menghancurkan Hutan di Riau. Apakah kasus ini jadi diusut? Ternyata tidak, Menteri Kehutanan Malem Sambat Kaban melapor ke Presiden agar kasus itu di hentikan, karena bila hal itu tidak di hentikan maka dua perusahaan raksasa bubur kertas akan berhenti dan ratusan ribu karyawan-ti akan menganggur, serta negara dirugikan Triliunan rupiah karena kedua Perusahaan itu telah menyumbang Devisa Negara dan membayar pajak yang cukup tinggi. Dengan alasan yang kelihatan masuk akal maka penyidikan kasus Perambahan Hutan di Riau pun di hentikan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk tim khusus pemberantasan Ileggal Logging yang di Ketuai Menkopolhukam Widodo AS, Praktis Polisi berhenti menangkap para dalang Penghancur Hutan Riau karena Presiden membentuk tim yang baru [7].

Kembali, hal ini disebabkan oleh faktor Penguasa dan Kepentingan Pribadi dan Kelompok yang pada akhirnya sangat merugikan Negara. Hanya karena pemilik kedua Perusahaan itu memiliki kedekatan terhadap Pemerintah yang berkuasa saat ini sehingga kejahatan yang mereka lakukan pun seolah-olah dapat di tutupi. Padahal kerusakan Hutan yang diakibatkan oleh kedua Perusaahan raksasa ini telah menghancurkan 3 juta hektar dari 5 juta hektar Hutan yang ada di Riau. Sebenarnya negara sangat di rugikan dari perbuatan penjarahan atau perusakan Hutan ini. Coba kita bayangkan saja berapa species binatang yang punah, keanekaragaman hayati yang musnah, akibatnya Riau semakin panas, sering terjadi banjir, longsor, dan kerusakan ekosistem alam yang tidak bisa di nilai dengan uang. Kerusakan Hutan Riau yang sangat luar biasa ini juga salah satu penyumbang semakin cepatnya terjadi Pemanasan Global atau Global Warming yang berdampak terhadap Perubahan Iklim di Bumi.

Namun sekali lagi inilah politik Dominasi kekuasaan kelompok atau Power individu. Meskipun rakyat dan negara sangat banyak yang menjadi korban tapi bila para Perambah Hutan itu dekat dengan Penguasa maka apapun yang dia lakukan tidak tersentuh oleh hukum, mereka bebas melenggang kangkung kesana kemari tanpa pernah takut di tangkap oleh aparat penegak hukum karena penguasa atau pemerintah tertinggi di negeri ini melakukan sebuah ijin pembiaran terhadap mereka. Walaupun Perusahaan-perusahaan itu telah melakukan penyalahgunaan ijin penguasaan Hutan. Tapi inilah yang terjadi Hutan kita di Riau semakin hancur.

Tidak tertutup kemungkinan, mungkin juga kasus-kasus Perambahan Hutan di Riau memiliki kesamaan dengan Daerah-daerah lain di Indonesia. Coba kita bayangkan berapa juta hektar Hutan Indonesia yang telah luluh lantak oleh para pelaku perambah Hutan itu. Kembali kepada masyarakatlah yang menilai bagaimana kepemimpinan Pemerintahan ini yang telah jelas-jelas membiarkan penghancuran Hutan. Padahal akibatnya sangat berbahaya yaitu terjadinya Pemanasan Global dan Perubahan Iklim. Bila perusakan Hutan ini terus terjadi maka bersiaplah menghadapi bencana-bencana yang akan datang silih berganti melanda Negeri kita Indonesia. Bila para cukong-cukong Perambah Hutan itu masih seenaknya saja menghabisi Hutan di Bumi Indonesia ini.

Kerusakan Hutan di Indonesia

Luas Hutan di Indonesia di laporkan terus menurun. Di tahun 1966 tercatat luas hutan Indonesia berjumlah 144 juta hektar, tetapi di tahun 1990 angka ini menurun menjadi 119,7 juta hektar[8]. Kerusakan Hutan di Indonesia semakin parah dan terus berlanjut, secara Nasional menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar menyebut angka kerusakan Hutan dan lahan di Indonesia 59,2 juta hektar (2006) laju kerusakan 1,19 juta hektar pertahun. Beliau juga mengutip data departemen Kehutanan, Rachmat menyatakan tahun 2002-2003 luas lahan berhutan di Indonesia masih 92,9 juta hektar tapi tahun 2005 tinggal 70, 8 juta hektar [9]. Angka-angka tersebut patut membuat orang Indonesia merenungkan secara lebih mendalam akibat-akibat penghancuran Hutan yang cukup cepat di Tanah Air kita.

Kerusakan Hutan yang besar-besaran itu akan ikut mempengaruhi Pemanasan Global atau Global Warming dan juga menghancurkan kekayaan keanekaragaman hayati yang selama ini menjadi kebanggaan kita bangsa Indonesia. Kini telah musnah. Sekali Hutan kita telah hancur maka tidak akan mungkin kembali tumbuh seperti semula.

Kerusakan Hutan di Dunia

Menurut Peta Lingkungan yang di terbitkan tahun 1990, tersisa kurang lebih 50% hutan tropis yang asli, yakni 750-800 juta hektar dari keseluruhan Hutan tropis yang di perkirakan 1,5 milyar-1,6 milyar hektar. Namun saat ini persentase hutan yang tinggal sudah pasti lebih kecil dari data ini.Sehingga dapat dimengerti akibat dari kehancuran Hutan ini adalah terjadinya Pemanasan Global dan Perubahan Iklim yang merupakan bencana yang sangat dasyat di abad ini. Kerusakan Hutan di muka Bumi ini adalah tanggung jawab kita bersama, karena yang menghancurkan Hutan juga adalah manusia, bukan binatang atau yang lain.

Fungsi-Fungsi Hutan bagi Kehidupan

Fugsi hutan Indonesia ada tiga jenis antara lain Hutan konservasi, Hutan produksi dan tanaman kehutanan atau kebun kayu. Hutan konservasi meliputi Hutan lindung dan Hutan suaka alam. Hutan produksi meliputi Hutan yang saat ini sebagian arealnya dikelola dengan sistem HPH. Kebun kayu meliputi tanaman jati, tanaman pinus dan Hutan tanaman industri (HTI) yang akan dibangun di berbagai tempat. Ketiganya sangat berbeda, baik sosok tegakannya, fungsi utamanya, dan metode pengelolaaannya.

Hutan konservasi tegakannya berlapis, fungsi utama ekologi ialah tidak boleh disentuh pembalakan atau perambahan. Kebun kayu tegakannya bersosok kebun dan fungsi utama untuk perekonomian. Kalau hutan konservasi berfungsi ekologi dan kebun kayu berfungsi ekonomi, hutan (alam) produksi berfungsi keduanya, ekologi dan ekonomi. Kedua fungsi ini tidak terpisah, ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan sekalipun dapat dengan mudah di bedakan. Meskipun berbeda, ketiganya tidak boleh disamakan. Kita salah kalau mengatakan melestarikan hutan, padahal membangun kebun kayu acacia mangium atau sengon. Tanaman acacia mangium itu sama saja dengan kebun karet atau kebun kelapa, sama-sama menghasilkan kayu tapi tidak sama dengan Hutan. Di Sabah, kebun kayu di sebut “Ladang kayu”, di Afrika dan di banyak tempat kebun kayu di sebut “Plantation” atau “Timber estate”. Hutan dan kebun kayu itu jauh sekali bedanya. Kita belum mengetahui fungsi Hutan sebenarnya, dan mungkin kita tidak akan pernah tahu. Kita bisa melihat bagaimana Negara yang mengubah Hutannya menjadi padang rumput, lahan pertanian atau kebun kayu. Disana populasi burung melonjak.

Burung yang banyak itu melahap kawat listrik, mengganggu lapangan terbang dan memusnahkan berbagai jenis serangga.

Nah, bila serangga habis, manusia bisa musnah di makan penyakit. Sebab yang melawan bibit penyakit itu, termasuk serangga. Fungsi Hutan yang utama adalah tempat tinggal ratusan juta jenis mahkluf hidup Tuhan. Di dalam hutan, mahkluf hidup yang jutaan itu hidup saling tergantung satu sama lain sehingga jumlah mereka tetap seimbang, tidak ada yang muncul menjadi pembunuh massal makhluf lain bila luas Hutan menciut, keseimbangan itu akan terganggu dan makhluf pembunuh massal itu bisa saja muncul. Untuk menghindari hal itu luas hutan tidak boleh menciut banyak[10].

Melihat fungsi hutan yang sangat luar biasa maka seharusnya manusia wajib bertanggung jawab untuk menjaga dan melestarikannya, karena fungsi Hutan sangat baik bagi kehidupan makhluf hidup di muka Bumi ini dan bukan malah merusaknya.

Kerusakan Hutan mengakibatkan terjadinya Pemanasan Global

Yang dimaksud dengan Pemanasan Global ialah naiknya suhu permukaan bumi karena naiknya intensitas efek rumah kaca (ERK). ERK sendiri sangatlah berguna, karena tanpa adanya ERK rata-rata suhu permukaan bumi adalah -18 derajat celcius. Dengan adanya ERK suhu rata-rata permukaan bumi ialah 15 derajat celcius. ERK terjadi karena sinar infra merah yang di pancarkan kembali oleh bumi terserap oleh gas tertentu yang di sebut gas rumah kaca (GRK). GRK terpenting ialah CO2, CFC, metan, ozon dan N2O, masing-masing kurang dari 10% dengan demikian pada waktu ini GRK terpenting ialah CO2 disusul CFC.

Pemantauan atmosfir bumi menunjukkan kadar GRK menunjukkan gejala meningkat. Karena itu orang sangat khawatir, intensitas ERK akan naik sehingga suhu permukaan bumi juga akan naik. Berdasarkan atas hasil pemantauan itu orang memproyeksikan suhu akan naik 3 derajat celcius. Pada kira-kira tahun 2030. Karena pengetahuan para pakar tentang ERK masih jauh dari sempurna, maka perkiraan tentang kenaikan suhu masih berbeda, bahkan ada yang memperkirakan akan terjadi pendinginan karena adanya umpan balik negatif, antara lain dari uap air. Namun demikian, meskipun masih banyak ketidak pastian, karena Pemanasan Global akan mempunyai dampak yang besar terhadap kesejahteraan manusia pada umumnya, seyogianyalah kita berusaha untuk mengurangi terjadinya Pemanasan Global.

Salah satu penyebab kenaikan CO2 yang merupakan GRK terpenting ialah Penebangan Hutan dan pembakaran biomassanya serta Konversi Hutan menjadi tataguna lahan nir-hutan. Dengan ini karbon yang tersimpan dalam biomassa hutan terlepas kedalam atmosfer dan kemampuan bumi untuk menyerap CO2 dari udara melalui fotosintesis Hutan berkurang. Kemampuan penyerapan CO2 dan penyimapanan karbon disebut endapan (sink) karbon. Selain hutan, laut merupakan pula endapan karbon yang besar. Setelah Hutan di tebang, sinar matahari dapat langsung mengenai permukaan-permukaan tanah [11]. Dengan kenaikan suhu itu dekomposisi bahan organik di atas tanah dan dan di dalam tanah di percepat, sehingga terlepaslah karbon yang tersimpan dalam bahan organik itu. Tindakan penebangan Hutan di daerah tropik akhir-akhir ini banyak terjadi, sehingga timbullah tuduhan bahwa kehancuran Hutan tropik ini merupakan penyebab utama terjadinya Pemanasan Global. Meskipun akibat terjadinya Pemanasan Global atau Global Warming ini bukan saja dari akibat penghancuran Hutan. Banyak faktor-faktor yang lain. Akan tetapi sudah pasti Kehancuran Hutan adalah salah satu faktor yang mempercepat terjadinya Pemanasan Global atau Global Warming yang berdampak terhadap Perubahan Iklim di Bumi kita ini.

Penutup

Bumi dan segala isinya di ciptakan oleh Tuhan dengan maksud dan tujuan yang baik, ini bisa kita lihat dan baca di Alkitab yakni di Kejadian 1 dan 2. Pada proses perjalanannya, ketika Manusia di beri tugas dan tanggung jawab oleh Tuhan untuk menguasai dalam arti mengusahakan dan melestarikanya. Ternyata, setelah Manusia jatuh dalam dosa, maka sifat “Keberdosaan Manusia” dan keserakahannya telah menguasia dirinya. Berawal dari “Kekerasan” yang telah berlangsung seumur hidup manusia itu sendiri akhirnya ikut berpartisipasi untuk menghancurkan Bumi dan segala isinya. Dengan mengatas namakan “Demi sesuap nasi” akhirnya kekerasan terhadap ciptaan lain itu pun berlangsung, sasaran empuknya Hewan, Tumbuh-tumbuhan dan Manusia. Babak penghancuran baru dimulai. Manusia dalam kurun waktu yang sangat panjang kemudian menghancurkan Hutan-hutan yang sebenarnya adalah untuk menjaga ekosistem alam akhirnya luluh lantak. Tahun demi tahun Bumi semakin panas akibat Penghancuran Hutan yang seolah tanpa akhir, bencana-demi bencana datang silih berganti. Bencana yang di ciptakan oleh Manusia itu sendiri.

Pemanasan Global atau Global Warming datang tanpa di undang. Binatang apa pula ini yang menjadi sebuah ancaman bagi kelangsungan kehidupan kita di muka Bumi yang kita cintai ini. Apa yang masih bisa saya lakukan? Sebuah pertanyaan datang di tengah ketakutan yang luar biasa. Mari kita serukan kepada seluruh Manusia yang ada di Bumi untuk menjadi pelestari bagi Bumi yang memang hanya satu-satunya ini, jadilah Pahlawan-pahlawan Kemanusiaan di dalam kehidupan sehari-hari. Pahlawan peduli Hutan dan Lingkungan Hidup. Seperti yang telah dilakukan oleh sesama kita, di sana, Desember 2007 lalu di sebuah gedung di Bali ada 189 Negara yang sedang bergumul memikirkan nasib Bumi ini?.Bagaimana dengan anda? Cukupkah hanya pasrah dan diam tanpa melakukan sesuatu bagi Bumi kita?

Kalau kita tidak mampu membersihkan sampah seberat 1 ton, marilah kita membuang sampah pada tempatnya bukan di sembarang tempat. Kalau kita tidak mampu mereboisasi Hutan jutaan hektar, marilah kita menanam 1 atau 2 Batang Pohon di halaman rumah masing-masing. Dan yang terpenting segeralah menghemat Energi dan berantas Pencemaran Udara.

Bila seluruh isi Planet ini melakukan hal yang sama, maka ada secercah harapan untuk kelangsungan hidup di bumi yang kini diambang kehancuran oleh bencana Pemanasan Global. Keinginan untuk menjaga dan melestarikan bumi bukan karena ada imbalan apa-apa. Kiranya muncul dari kesadaran akan betapa pentingnya mempedulikan Bumi dan bukan karena ada tawaran 227 miliar rupiah bagi setiap orang siapapun yang bisa menyelamatkan bumi dari gas karbon dioksida dengan memindahkan 1 ton gas tersebut keluar dari atmosfir.

Bukan berarti dengan tawaran itu membuat kita mau menyelamatkan Bumi dari kehancuran. Tanpa hadiah itupun, dimanapun anda berada, apapun yang yang sedang anda lakukan, anda semua bisa melakukan sesuatu bagi Bumi ini, dengan menolong Lingkungan di sekeliling anda tetap bersih dan lestari. Kini kita semua bisa mengambil tanggungjawab untuk Planet yang kita cintai ini. Menanam Sebatang Pohon sama dengan Memuja Tuhan, tidak membuang Sampah Sembarangan sama dengan memuliakan Allah, menghemat Energi juga sama dengan mengasihi sesama Ciptaan Tuhan.

Segera Kampanyekan bersama!!! Sebelum terlambat!!!!!!!!!

Tuhan Yesus Memberkati!! AMEN

Sebagai penutup tulisan ini Saya mengutip dari dari

Injil Markus 16 ayat 15 :

Pergilah keseluruh Dunia

Beritakanlah Injil kepada seluruh Mahkluk.

“Dr Robert Valentino Tarigan Berkata : Wariskanlah Mata Air Bagi Anak Cucu Kita, Jangan Wariskan Air Mata”

KEPUSTAKAAN

  1. Drummond, Deane Celia, Teologi dan Ekologi, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006
  2. Greenberg Russel dan Gradwohl Judith, Menyelamatkan Hutan Tropika, Yayasan Obor Indonesia, 1991
  3. Khim Yang, Liem, Dr, Kebenaran Allah Lawan Kebenaran Sendiri, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002
  4. Leenhouwers, P Manusia Dalam Lingkungannya: Refleksi Filsafat Tentang Manusia, Gramedia, Jakarta, 1988
  5. Lefebure, D, Leo, Penyataan Allah Agama Dan Kekerasan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2007
  6. Lubis, Mohctar, Melestarikan Hutan Tropika Permasalahan, Manfaat dan Kebijakannya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1992
  7. Pratney Winkie, Memulihkan Negeri, Andi, Yogyakarta, 2003
  8. Susanta Gatut Dkk, Akankah Indonesia Tenggelam Akibat Pemanasan Global, Penebar Plus, Jakarta, 2008
  9. Majalah Tempo, Edisi 16 September 2007
  10. Makalah, Susilo dan Riris Johanan Siagian 2007, Kekerasan, Johan Galtung.
Bahan dari Internet :WWW. KOMPAS.Com


[1] Tempo, 16 September 2007, hal 23

[2] Kompas, 25 September 2007

[3] Kompas, 12 Februari 2007

[4] Leo D. LEFEBURE: Pernyataan Allah, Agama Dan Kekerasan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003

[5] Frans Magnis Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, 1991, Hal 203 dalam Susilo dan Riris Johana Siagian Segitiga Kekerasan, Johan Galtung, Presentasi Kelompok, di UKSW Salatiga, September 2007

[6] Tempo, 16 September 2007, hal 27-30

[7] Tempo, 16 September 2007, hal 34

[8] Mochtar Lubis, Melestarikan Hutan Tropika: Permasalahan dan Kebijakannya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1992

[9] Kompas, 24 September 2007

[10] Mochtar Lubis, Melestarikan Hutan Tropika : Permasalahan, Manfaat dan Kebijakannya, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1992, hal 74

[11] Ibid, hal 14-15

Laptop dan Hand Phone terbaru Sebuah Kebutuhan atau Keinginan??

(Apakah saat ini Orang-orang harus Hidup dengan Laptop dan Hand Phone??)

Di UKSW Salatiga Jawa Tengah, sebuah pemandangan biasa bila Mahasiswa/i SI membawa/ menenteng Laptop atau Komputer jinjing. Sebagai pemerhati Sosial dan Peduli Kemanusiaan, secara Pribadi Penulis sering memperhatikan setiap Mahasiswa/i yang memiliki Laptop tersebut. Melihat hal itu muncul sebuah pertanyaan, apakah memang Laptop sudah sangat di butuhkan oleh para Mahasiswa/i itu? Atau hanya sebagai “Trend” dan Gaya saja. Agar dilihat pantas sebagai seorang Mahasiswa/i SI dengan membawa Laptop kemana-mana. Bukan hanya di Kampus dan Perpustakaan saja, juga di Kantin/Cafe Kampus, Mahasiswa-i tersebut menggunakan Laptop atau Komputer jinjingnya tadi. Ternyata, ada juga diantara para Mahasiswa/i tersebut yang “Memaksa” Orang Tuanya untuk membelikan Laptop dan Handphone terbaru. Laptop dan Handphone tersebut, di pergunakan bukan untuk mendukung Studi/Kuliahnya, hanya untuk menyimpan Lagu-lagu terbaru dan Game Online. Ada juga yang mempergunakannya untuk menyimpan File-file Porno yang di akses dari Internet dan Mengcofy dari teman-temannya yang lain. Wah?? Bagaimana itu ya?

Apakah ini yang di namakan Budaya Populer (Pop Culture) yang sedang terjadi secara Global?? Bahwa Dunia ini di giring oleh para Kaum Kapitalis untuk menjadi Manusia yang Individualistis dan Konsumerisme. Maksudnya, sering kali kita membeli sesuatu Produk Teghnologi yang bukan Kebutuhan kita tapi hanya Keinginan kita saja, dan biar dianggap keren atau beken. Penulis mau bertanya. Apakah memang ketika menjadi seorang Mahasiswa/i sudah harus memiliki Laptop?? Penulis berpikir, kalau hanya untuk mengetik tugas-tugas dari Kampus atau tugas-tugas dari Dosen, tidak harus memaksakan Orang Tua di Kampung untuk membeli Laptop. Kalaupun harus, Komputer biasa saja yang Pentium 3 atau 4 sudah bisa menyimpan banyak data-data dan sudah lebih dari cukup untuk mengerjakah Tugas-tugas dari Kampus atau Dosen-dosen.

Pengalaman banyak Orang, selama mengikuti kuliah sebagai Mahasiswa/i tidak harus memiliki Laptop. Cukup dengan Komputer biasa juga bisa. Apakah ini yang dinamakan Dampak Tegnologi Tinggi yang Mengglobal dengan “Strategi Pasar Global” yang menggiring kita untuk ikut “Budaya Latah” alias Budaya ikut-ikutan saja? Padahal kita belum saatnya untuk menggunakan Produk-produk Tegnologi tersebut?? Penulis di sini sama sekali bukan menolak Tegnologinya, hanya mau mengatakan bahwa tidak semua Tegnologi yang ditawarkan kepada kita harus kita miliki bahkan kita harus memaksakan diri untuk memilikinya hanya untuk mengikuti Perkembangan Zaman. Mungkin pada saatnya yang tepat, kita akan menggunakan Produk Tegnologi tersebut. Katakanlah kita saat ini seorang Pelajar atau Mahasiswa? Untuk apa memiliki Laptop dan Hand Phone yang canggih.Belum tepat Guna bagi kita.Orang Tua juga perlu Bijaksana menyikapi hal ini.Jangan langsung memberikan apa saja yang di minta oleh Anaknya yang sedang Sekolah atau Kuliah. Orang Tua tidak perlu memanjakan Anak dengan barang-barang Tegnologi yang belum menjadi Kebutuhan si Anak. Bukan tidak mungkin dengan barang Tegnologi yang kita berikan itu dia terjerumus ke dalam hal yang salah.

Termasuk memberikan Mobil kepada si Anak yang masih duduk di bangku Sekolah atau Kuliah. Hal ini membuat si Anak memiliki beban Psikologis. Karena dia sudah bertahun-tahun naik mobil Mewah milik Orang Tuanya. Coba bayangkan si Anak itu kelak bekerja di sebuah Instansi di Daerah yang pelosok dengan Gaji 1 juta. Padahal sewaktu dia Kuliah dia dikirimi uang 2-3 juta uang bulanan oleh Orang Tuanya. Secara umum si Anak akan menderita. Ini menjadi perenungan buat kita semua. Ajar dan didiklah Anak-anak kita hidup Sederhana dan mampu Bersyukur dengan apa adanya. (Bandingkan Film Pangeran Katrokpolitan yang di Perankan Jhosua) Agar kelak ketika dia tamat dan bekerja di Daerah yang minus sekalipun dia sudah siap Mental. Penulis pernah mendengar cerita tentang Anak seorang Pejabat di Jakarta, semua Anak-anaknya (Smu dan Mahasiswa) Naik bus umum pergi ke Sekolah/Kuliah. Ketika di tanya kepada Orang Tua si Anak itu. Kenapa tidak di belikan Mobil saja?? si Bapak menjawab. Biarkan saja dia belajar hidup Sederhana, soalnya belum tentu nanti dia sanggup membeli Mobil mewah dengan Keringatnya sendiri. Bukan berarti Saya tidak Sayang kepada mereka. Untuk apa Saya jerumuskan mereka. Saya sanggup membeli Mobil apapun untuknya. Namun hal itu tidak mendidik. Itulah jawaban Orang Tua Anak tersebut.

Sangat menarik mengenal Budaya Populer atau Pop Culture ini, kita di ajarkan untuk melihat semua Produk-produk Tegnologi itu dengan “Kaca Mata” Kebutuhan atau hanya Keinginan.

Mungkin kita perlu lebih“Kritis” terhadap apapun itu termasuk Hand Phone. Sebagai alat Komunikasi HP itu sangatlah baik, akan tetapi kita juga harus sadar bahwa HP itu sebenarnya di buat hanya untuk layanan Informasi dan Komunikasi. Jadi maksud Penulis, marilah kita memanfaatkan Tegnologi apapun itu dengan Kritis bukan hanya asal terima saja. Penulis memberi contoh begini, seandainya Penulis di suruh membeli dan memilih secara sadar untuk memiliki HP yang Mahal atau yang Sederhana. Maka Penulis pasti akan membeli HP yang sederhana. Katakanlah HP yang berharga 1 juta. (bagi penulis Fungsi utama HP hanya untuk meng SMS atau menelpon Keluarga, Dosen, Pdt, Pt, Dkn, Jemaat, Tetangga dan Teman-teman saja) Dari pada harus membeli HP yang harganya 5-10 juta??

Kecuali, HP yang mahal itu dengan berbagai Fitur-fiturnya sudah menjadi Kebutuhan, Penulis pikir tidak Masalah. Termasuk untuk memiliki HP lebih dari 1 buah (saat ini ada banyak Mahasiswa/i yang memiliki HP lebih dari 1 mungkin juga 2-3 buah). Dalam hal memiliki Laptop juga sama, apakah hal itu sudah menjadi Kebutuhan kita atau hanya Keinginan kita saja. Jujur saja, sebagai seorang Pendeta memiliki Laptop itu bukanlah sebuah Kebutuhan, masih sebagai Keinginan. Kalau Komputer ya, itu sudah menjadi Kebutuhan untuk saat ini. Lain hal bila seorang Pendeta itu memang penulis di berbagai Media, Internet, Web Site, Penulis Buku, dia seorang Dosen (file-file Bahan Kuliah), menulis di Majalah maupun Jurnal atau juga sering di undang sebagai Konseptor dan Nara Sumber (Pembicara). Nah kalau hanya sebagai Pendeta Jemaat? Yang hanya memikirkan Pelayanan, Warta jemaat, Laporan Sidang Runggun, Sidang Ngawan maupun bahan Sermon Kotbah. Mungkin Komputer atau mesin Tik juga sudah bisa. Jangan Latah atau ikut-ikutan Budaya Pop. Bahasa kami selalu “Tepuk dada tanya Selera” atau “Maksud hati ingin memeluk Gunung apa daya tangan tak sampai”. Apapun itu, harus di seleksi/kritisi apakah Barang atau Produk itu sudah menjadi Kebutuhan atau masih Keinginan kita saja. Jangan paksa Jemaat untuk hal-hal yang belum terlalu Penting. Itu juga sama dengan KORUPSI!!

Informasi ini hanyalah Opini, bukan dalam rangka menyinggung siapa-siapa, Penulis mau menyampaikan, melihat perkembangan situasi dan keadaan saat ini dimana Manusia di giring kearah Individualisme, Hedonisme, Konsumerisme dan Materialisme. Kita tahu, sudah tidak hal aneh lagi bahwa banyak Mahasiswa/i saat ini yang kerjanya hanya maen “Game Online” saja setiap hari sampai lupa Kuliah ataupun Belajar. Kita harus sadar bahwa hampir semua Produk-produk Tegnologi menggiring kita ke arah Individualisme. Coba lihat Laptop dan HP Kita, bila sedang aktif kita bisa asyik sendiri berjam-jam tanpa Peduli Masyarakat atau Orang yang berada di sekeliling kita!

Banyak juga Mahasiswa/i sekarang yang kerjanya hanya menonton Film atau Situs Porno di Laptop dan HPnya, hal ini harus kita pikirkan bagaimana mengantisipasinya. Maksudnya jangan kita terlalu bangga ketika Anak-anak kita di perlengkapi dengan yang namanya Laptop dan HP yang canggih padahal menurut ukuran usianya mereka belum layak untuk memilikinya. Mengapa Penulis katakan demikian?? Banyak juga kasus Mahasiswa/i SI Nonton Film Porno dan menyimpan File Porno. Ada dugaan di beberapa Kampus dan Gereja, ada Oknum Mahasiswa Program S 2 dan Oknum-oknum Hamba Tuhan melakukan hal yang sama. Ini menjadi Perenungan?? Mungkin maksud kita baik untuk menyediakan Fasilitas, akan tetapi bila tidak di bekali dan tidak dipersiapkan dalam menggunakannya maka hal Negatif bisa terjadi. Seperti Mahasiswa S2 atau Oknum-oknum tadi. Tadinya Laptop itu di sediakan hanya untuk mendukung Pelayanannya misalnya mengetik Bahan Sermon, bahan Kotbah dan Warta Jemaat.

Ternyata, karena tidak di persiapkan, disalahgunakan untuk menonton Game atau film Porno sehingga melupakan tugas-tugasnya. Semoga tidak ya!! Penulis menyarankan agar kita hidup semakin Bijaksana, pakailah Tegnologi karena memang sudah menjadi Kebutuhan!! Apapun itu, jangan karena keinginan dan Latah atau Ikut-ikutan!! Atau juga Karena terimbas Budaya Populer (Pop Culture).

Firman Tuhan

Amsal 1:7 Berkata “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tapi Orang bodoh menghina didikan”

Penulis Pdt Masada Sinukaban

Pemerhati Sosial dan Peduli Kemanusiaan UKSW Salatiga

KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA

Pelayan-pelayan di Gereja GBKP ada apa Denganmu??

(Opini atas keadaan Pelayanan para Hamba Tuhan saat ini yang kian merosot, baik secara Moral maupun secara Spiritualitas)

Suatu Sore di depan Gerbang Kampus UKSW Salatiga, Penulis berdiskusi dengan seorang Anggota jemaat Gereja Suku yang berkantor pusat di Sumatera Utara tentang masalah-masalah Gereja dan Seputar masalah Pendeta atau Hamba Tuhan. Anggota jemaat tersebut Studi di UKSW mengambil Program Pasca Sarjana, dia seorang Guru di salah satu Smu Negeri Balige, dia sedang bergumul dengan keberadaan Gerejanya yang kian Mundur dan Merosot saja. Penulis mencoba bertanya kepadanya Mundur dan Merosot dalam hal apa?? Dia menjawab, mengenai Moral Pendeta-pendeta Kami katanya, dia bercerita panjang lebar mengenai keadaan dan situasi Gereja nya dan Moral Para Pendeta-pendetanya. Katanya, ada Oknum Pendeta yang terlibat Korupsi, ada yang Homo Sex (melakukan Sex sejenis dengan sesama Pendeta), ada yang suka Meminum minuman Keras, ada yang terinfeksi HIV AIDS, ada yang suka main Judi, ada yang hanya mau melayani di Kota-kota besar saja (Lahan Basah), tidak mau lagi melayani di desa-desa katanya.

Dia kelihatannya sangat bergumul sekali, sambil berkata kepada penulis mau di bawa kemana nanti Gereja Saya ini, kalau Moral Pemimpinnya sudah banyak yang tidak benar katanya. Lalu penulis berkata kepadanya, bahwa hampir semua masalah di Gereja-gereja itu sama. Masalah ada Oknum Pendeta atau Pikaris yang suka Main Judi, Suka Mabuk, Korupsi, Narkoba, Selingkuh, Mengoleksi Situs Porno dari Internet, Nonton Film Porno di Laptop, mencari Lahan Basah (Penempatan), Gila Jabatan, Gila Hormat mungkin juga ada yang Homo Sex.

Mengenai Masalah-masalah di Gereja teman kita tadi, mungkin juga sudah terjadi di Gereja kita GBKP. Nah, kalau Gereja GBKP mau trasparan, sebenarnya masalah-masalah yang seperti itu bisa saja sudah ada di GBKP. (perlu Juga Moderamen Memprakarsai Test Narkoba/HIV AIDS gratis bagi para Pelayan-pelayannya). Sudah saatnya GBKP jujur dan trasparan menyikapi masalah ini. Janganlah Moderamen atau Klasis menutupi Kasus-kasus yang memalukan ini, kita harus jujur kepada jemaat maupun kepada Tuhan. Bahwa ada Pelayan-pelayan GBKP yang bermasalah!! Masalahnya mau atau tidak kita trasparan?? Demi menyembuhkan atau membimbing Orang-orang yang seperti itu agar dia kembali “Kejalan yang Benar” bila sudah ada Oknum-oknum Pelayan yang Jatuh kedalam Dosa!! Kalau Saya katakan, jujur saja kepada jemaat, tidak usah di tutup-tutupi, Pendeta/PKPW juga manusia kok. Biarkan mengalir apa adanya, nanti jemaat yang menilai Pelayan-pelayan tersebut. Bahasa kami menyebutnya “Seleksi Alam”. Penulis sebagai Pemerhati Sosial dan Peduli Kemanusiaan melihat situasi saat ini memang sudah sangat menghawatirkan. Kalau kita membaca Majalah-majalah Rohani seperti Bahana dan Gaharu, sudah tidak menjadi barang aneh bila ada Oknum Pendeta/Hamba Tuhan yang Selingkuh, Mabuk, Homo Sex, Korupsi, bahkan Kumpul Kebo. Ada juga kita dengar dan baca, Oknum Pendeta yang berskala Nasional dan International yang Berselingkuh dan Homo Sex. Penulis tidak mengatakan apakah ini tanda-tanda Akhir Zaman?? Baca Matius 24 :1-51 dan I Timotius 1 :3-11 Mungkin juga, mari kita Berhikmat dan Bijaksana menyikapinya. Mari kita saling Koreksi dan Saling mengingatkan!!

Seperti Saat ini di beberapa Gereja GBKP, ada banyak Pt, Dkn dan Jemaat yang mengeluh karena ada Oknum-oknum Pelayan atau Hamba Tuhannya yang Malas melayani !! Anda bisa bayangkan, Oknum Pelayan yang malas melayani Perpulungennya padahal dia sudah lama di situ di tempatkan oleh Moderamen. Kita patut bertanya, bagaimana Spritualitas Sang Pelayan tersebut?? Kalau jemaatnya saja pun dia tidak peduli, apalagi Orang-orang yang berada di sekelilingnya yang bukan jemaatnya?? Mungkin Oknum Pelayan itu kerjanya hanya menonton Tv atau Main Game saja di Rumahnya?? Atau mungkin juga nonton “Film-film lain”. Seharusnya, sebagai Pelayan dia harus “Rajin” melayani Kebaktian Minggu dan Kegiatan Gerejawi lainnya seperti PJJ ke Daerah-daerah Perpulungennya dan daerah Pelayanannya. Jangan memilih-milih tempat untuk Melayani!! Pelayan harus siap melayani Kapan dan Dimana saja, karena itu sudah pilihan Kita !! Kalau tidak siap-melayani di Desa-desa, jadi Dosen atau Pengusaha saja!!

Yang anehnya, ada “Penyakit Pelayanan” saat ini!! Kalau jemaat yang Kaya, Oknum Pelayan rajin melayani kesana, tapi sebaliknya kalau Jemaat itu Miskin dan jaraknya jauh maka mungkin sekali 3 bulan pun belum tentu di layani, he, he, he. Ini akan berbahaya bagi kemajuan Gereja kita di masa akan datang!! Tidak perlu rayo-ayo. Sebagai Pelayan, harusnya melihat Jemaat itu Sama, biarpun dia seorang Pengusaha, Menteri, Jenderal, atau Presiden. Kita harus memperlakukan sama dengan Jemaat kita yang status Sosialnya mungkin rendah seperti Gelandangan, Pengemis atau Buruh!! Jangan kita bedakan!!

Moderamen dan Klasis-klasis harus menegur dengan Keras kalau ada Pelayan-pelayan seperti Itu!! Bila ada Keluhan dari Pt, Dkn dan Jemaat mengenai Pelayan di Runggunnya atau Majelisnya, Moderamen dan Klasis harus segera menyikapinya. Hal itu bisa menjadi Duri dalam daging atau Preseden Buruk bagi Citra Pelayan-Pelayan lain yang masih baik dan bagus. Bila penting andai dia tidak merubah sikap Pelayanannya, Moderamen atau Klasis harus Menggembalakan dan menarik oknum Pelayan tersebut!! Dari pada memalukan Korps Pelayan GBKP atau PKPW. Andai Penulis saat ini yang menjadi Moderamen GBKP, Pastilah Para Pelayan yang Malas-malas itu Di Panggil dan Di tegur!! Kita Perlu Tegas dalam Memimpin!! Agar Wibawa Gereja bisa di tegakkan, jangan seperti Pemimpin yang Peragu. GBKP tidak membutuhkan tenaga Pelayan yang malas dan Setengah Hati!! Tuhan Yesus juga tidak suka model Orang yang Suam-suam Kuku (tidak Dingin atau Panas) Wahyu 3 15-17!!. Tulisan ini sebagai Teguran dan Perenungan buat para Pelayan agar melayani dengan tulus. Kalau tidak mampu dan tidak mau silahkan angkat kaki dan silahkan Gantung Jubah daripada hanya jadi “Batu Sandungan” bagi Para Pelayan yang lainnya yang masih Tulus dan Sungguh dalam Melayani. Kiranya ada Perubahan (Cange) bagi Pelayan-pelayan yang Malas tersebut Semoga??

Belajar lah dari Sang Gembala Agung kita Tuhan Yesus Kristus, Dia taat sampai mati demi Karya Keselamatan yang di bawaNYA. Belajar juga dari para muridNYA, Yohanes, Petrus dan Paulus. Mereka adalah orang-orang yang tulus dalam melayani. Demi memberitakan Injil. Juga belajarlah dari para Bapa-bapa Gereja kita yang dulu, Stepanus, Blandina, Policarpus. Mereka siap jadi Martir demi Memberitakan Injil. Belajar dari Pelayanan Pdt David Living Stone ke pedalaman Afrika. Apa yang kita lakukan sekarang ini jauh lebih enak, bila dibandingkan dengan Orang-orang yang telah mendahului kita untuk memberitakan Injil. Coba bandingkan pelayanan kita dengan Pdt Nomensen, Pdt Neumann dan Pdt Hc Kruyt (Mereka melayani tanpa Pamrih. Tulus, sungguh dan tidak mengharapkan apa-apa, hanya mencari Jiwa-jiwa saja untuk di selamatkan). Kita ini tidak ada apa-apanya!! Saat ini, kita sudah di Gaji, sudah punya Rumah, Sudah punya Mobil atau Honda dinas, kemanapun kita melayani ada yang memberi makan dan ada yang memberikan Ongkos (Amplop atau Salam-salam, he, he, he, he). Nah, apa lagi?? Kenapa kita malas dan melayani dengan setengah Hati?? Bertobatlah Anda sebelum Anda Mati dan Mempertanggung Jawabkan semua Pelayanan Anda nantinya di hadapan Tuhan Yesus!!

Seperti biasa Saya akan menutup dengan Firman Tuhan :

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan.

Filipi 1 ayat 21

Penulis Pdt Masada Sinukaban

Pemerhati Sosial dan Peduli Kemanusiaan UKSW SALATIGA

KESAKTIAN PEDULI GENERASI INDONESIA